Lebih dari 350 tahun yang lalu seorang Filsuf asal Prancis Rene Descartes mengungkapkan suatu ungkapan hasil dari buah pemikirannya “Cogito ergo sum” yang bahwasanya manusia adalah makhluk yang tidak mungkin mengelak dari pikirannya. Semua boleh saja disangsikan oleh manusia, kecuali pikirannya. Renungan Descartes tersebut boleh jadi menjadi salah satu dasar pada area mana psikologi bekerja dalam sepak bola. Apakah yang dipikirkan oleh pemain-pemain tersukses sepanjang sejarah ketika mereka dalam lapangan? Bagaimana mereka mengatur pikirannya saat setiap pergerakannya disaksikan langsung oleh puluhan ribu penonton di stadiun dan bahkan jutaan pasang mata lainnya di layar kaca? Bagaimana mereka fokus dalam pertandingan dan sejenak melupakan masalah pribadi mereka?

Kita mungkin sering mendengar bagaimana Cristiano Ronaldo membangun karir awalnya dengan terus menerus berlatih dan berlatih, bahkan banyak yang bilang selalu berlatih di luar batas. Selain itu juga Cristiano Ronaldo di kenal sebagai pemain dengan mental yang kuat. Bisa anda bayangkan bagaimana hancurnya seorang pemuda yang kalah di final EURO 2004 melawan klub non unggulan Yunani bahkan di hadapan publiknya sendiri. Namun setelah itu Ronaldo bangkit dan dengan rakus melahap banyak gelar dan meraih prestasi individu serta memecahkan banyak rekor. Itu semua menjadi sebuah alasan yang logis bahwa banyak pemain sepakbola muda seperti Mbappe yang menjadikannya sosok panutan untuk terus berjuang.

Selain itu kita semua mesti ingat betapa sederhananya skill yang dimiliki oleh seorang Gennaro Gattuso, Filippo Inzaghi atau bahkan Marouane Fellaini. Namun demikian, mengapa mereka mampu mencapai level top? Jawabannya adalah tentang mental mereka, bagaimana mereka dapat membulatkan keyakinan dan kepercayaan diri saat berada dalam pertandingan (besar sekalipun)

Bagi seorang atlet, kemampuan fisik awalnya terlihat menentukan. Namun, tidak begitu kata psikolog; fisik hanya menempati urutan kedua, karena mental adalah segalanya. Psikologis olahraga, Dr. John Bartholomew dan Dr. Esbelle Jowers dari Universitas Texas sepakat kalau atlet kelas dunia memadukan kekuatan fisik dan mental sebagai rahasia prestasi yang mereka raih.

Pertandingan adalah momen bagi atlet untuk memaksimalkan apa yang mereka lakukan saat latihan. Mental berpengaruh besar di sini. Bartholomew mencontohkan saat hendak memukul bola golf, Tiger Woods tidak banyak berpikir akan memukul ke mana, dengan kekuatan seperti apa. Karena mental yang sudah terbentuk, lengannya sudah secara otomatis mengukur jarak bola dengan lubang.

Bagaimana melatihnya?

Kinerja mental seorang atlet sukses salah satunya sangat dipengaruhi oleh kinerja otak bagian depan (lobus frontal). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa lobus frontal sangat penting untuk pengambilan keputusan, antisipasi, dan kesadaran. Area inilah yang bekerja dominan untuk menenangkan pikiran dan menjaga rasa percaya diri atlet.

Latihan sederhana untuk mengendalikan kerja area ini adalah dengan berbicara secara positif kepada diri sendiri, atau self talk. Penelitian menunjukkan bahwa self talk dapat memengaruhi kinerja unsur kimia dalam otak dan hormon manusia. Hal-hal positif yang kita bicarakan pada diri sendiri memunculkan hormon dopamin, sedangkan hal negatif akan memunculkan hormon kortisol.

Dalam sebuah studi karya tulis yang dipublikasikan di jurnal Perspectives on Psychological Science tersebut menyebutkan bahwa jenis self talk yang bersifat instruktif lebih efektif daripada yang bersifat motivasional. Sebagai contoh, perkataan “dapatkan bola dan lakukan umpan terobosan” lebih efektif daripada “kamu pasti bisa melakukan umpan dengan baik”

Selain itu mulailah latih bahasa tubuh anda, percayakah anda bahwa kondisi fisiologis (fisik) seseorang memiliki kaitan dengan kondisi psikologisnya. Salah satu penelitian dari Harvard Business School menunjukkan bahwa pose yang dominan (seperti bahu tegap, pandangan mata ke depan) dapat menurunkan kadar hormon stres kortisol hingga 25 persen dan meningkatkan kepercayaan melalui testosteron sebesar 19 persen. Fakta yang tentunya menunjukkan pentingnya psikologi dalam dunia olahraga. Bahasa tubuh seorang pemain dalam setiap pertandingan tentunya sangat penting sebagai penanda atau bahkan pelepasan stress sehingga dapat segera merecharge mentalnya. Maka tak jarang kita sangat sering melihat pemain yang baik kita lihat langsung maupun melalui sorotan kamera selalu terlihat ekspresif.

Ketiga tetap fokus dan selalu siap untuk bangkit. Sebelum benar-benar sukses, umumnya seorang pesepakbola merasakan kegagalan. Tanpa kegagalan, pesepakbola tak akan pernah mendorong dirinya terlalu keras. Kegagalan adalah cara membangun diri terhebat yang pernah ada. Saat kalah, pesepakbola akan mencoba mencari tahu mengapa ia bisa gagal, dan bagaimana mencegah agar kegagalan itu muncul kembali. Tetaplah fokus untuk capaian yang ingin kamu raih dan tanamkan kemauan untuk bangkit dalam hati.

Tentunya masih banyak lagi cara untuk membangun mental psikologis agar seorang pemain bisa menjadi pemain bermental juara. Dan Hal ini tentunya juga sangat di butuhkan untuk pemain-pemain muda, agar mereka bisa tetap menjaga asa mereka meraih impian dan prestasi dalam dunia sepakbola.

Other Articles

sekolah bola artikelsekolah sepak bola

Leave a Reply